Selasa, 03 April 2012

Indentifikasi Senyawa Hidrokarbon dan Senyawa Organik Jenuh dan Tidak Jenuh

Judul : Indentifikasi Senyawa Hidrokarbon dan Senyawa Organik Jenuh dan Tidak Jenuh
Tanggal Percobaan : 24 Februari 2012
Tanggal Laporan : 2 Maret 2012

I. Tujuan Percobaan
• Mengetahui kelarutan dari senyawa hidrokarbon alifatis dan aromatis.
• Mengetahui kekhasan dari hidrokarbon Alifatik (Alkana) dan hidrokarbon Aromatik (benzena).
• Menentukan sifat dari benzena jika dijadikan sebagai pelarut.
• Menetukan nutrisi dari benzena.

II. Prinsip Percobaan

Hidrokarbon merupakan persenyawaan organik yang paling sederhana karena hanya terdiri dari atom karbon dan atom hidrogen. Hidrokarbon dibagi dalam dua kelompok, yaitu: hidrokarbon alifatik dan hidrokarbon aromatik. Yang termasuk hidrokarbon aromatik ialah benzena. Benzena ditemukan pertama kali oleh Paraday pada tahun 1825 berupa cairan dari gas pembakaran dan senyawa ini mempunyai rumus perbandingan C-H dari berat molekul dapat diketahui rumus molekulnya adalah C6H6.

Teori Dasar
Hidrokarbon merupakan persenyawaan organic yang paling sederhana yang hanya terdiri dari atom karbon dan atom hidrogen. Meski secara biologis persenyawaan-persenyawaan hidrokarbon tidak penting, tetapi persenyawaan-persenyawaan biologis dapat dipandang sebagai turunan dari hidrokarbon (hidrokarbon dipandang sebagai persewaan induk). Keluarga Hidrokarbon dapat digambar dalam diagram yang dilukiskan pada gambar berikut :
Hidrokarbon Hidrokarbon Alifatik Hidrokarbon Aromatik.
• Alkana
• Alkena
• Alkuna
Semua persenyawaan hidrokarbon bersifat non pokar, sehingga ikatan antar molekulnya sangat lemah. Karena itu hidrokarbon yang berat molekulnya rendah berbentuk gas. Karena sifat non polar ini, hidrokarbon akan mudah larut dalam pelarut-pelarut berpolaritas rendah seperti karbon tetraclorida (CCl3), chloroform (CHCl3), benzena (C6H6) dan eter (R-O-R). Selain itu hidrokarbon mempunyai kerapatan yang lebih kecil dari air (http://labdasar.trunojoyo.ac.id/buku%20Organik.pdf)
Dalam bidang kimia, hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri dari unsur karbon (C) dan hidrogen (H). Seluruh hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atom-atom hidrogen yang berikatan dengan rantai tersebut. Istilah tersebut digunakan juga sebagai pengertian dari hidrokarbon alifatik.
Sebagai contoh, metana (gas rawa) adalah hidrokarbon dengan satu atom karbon dan empat atom hidrogen: CH4. Etana adalah hidrokarbon (lebih terperinci, sebuah alkana) yang terdiri dari dua atom karbon bersatu dengan sebuah ikatan tunggal, masing-masing mengikat tiga atom karbon: C2H6. Propana memiliki tiga atom C (C3H8) dan seterusnya (CnH2•n+2).
Senyawa ini merupakan senyawakarbon paling sederhana yang terdiri dari atom karbon(C)dan hidrogen(H).sampai saat ini terdapat lebih kurang 2 juta senyawa hidrokarbon.sifat senyawa-senyawa hidrokarbon ditentukan oleh struktur dan jenis ikatan koevalen antar atom karbon.oleh karena itu,untuk memudahkan mempelajari senyawa hidrokarbon yang begitu banyak,para ahli melakukan
1. berdasarkan bentuk rantai karbon,hidrokarbon digolongkan menjadi tiga,yakni:
a. Hidrokarbon alifatik
• Alkana
• Alkena
• Alkuna
b. Hidrokarbon alisiklik
c. Hidrokarbon aromatik

2. berdasarkan jenis ikatan antar atom : Hidrokarbon jenuh dan hidrokarbon tak jenuh.
Berdasarkan ikatan yang terdapat pada rantai karbonnya, hidrokarbon dibedakan menjadi :
1) Hidrokarbon jenuh, yaitu hidrokarbon yang pada rantai karbonnya semua berikatan tunggal. Hidrokarbon ini disebut juga sebagai alkana.
2) Hidrokarbon tak jenuh, hidrokarbon yang pada rantai karbonnya terdapat ikatan rangkap dua atau rangkap tiga.

Hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap dua disebut alkena dan hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap tiga disebut alkuna:
1. Alkana
Alkana merupakan hidrokarbon alifatik jenuh yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan semua ikatan karbon-karbonnya merupakan ikatan tunggal. Alkana juga disebut parafin yang berarti mempunyai daya ainitas kecil (sukar bereaksi).
2. Alkena
Alkena adalah senyawa hidrokarbon yang mempunyai satu ikatan rangkap dua ( C=C ) pada rantai karbonnya. Sehingga alkena yang paling sederhana mempunyai 2 atom C. Alkena disebuut juga olefin dari kata olefiant gas (gas yang membentuk minyak).
3. Alkuna
Alkuna adalah hidrokarbon alifatis tak jenuh yang mempunyai satu ikatan rangkap tiga ( – C C – ) pada rantai karbonnya. Dibandingkan dengan alkana dan alkena yang sesuai, alkuna mempunyai lebih jumlah atom (H) yang lebih sedikit.

III. Alat dan Bahan
1. Alat
• Tabung reaksi
• Labu erlenmeyer
• Pipet tetes
• Gelas ukur
• Pipet gondok

2. Bahan
• HNO3 pekat 3 mL
• Benzena (C6H6) 1 mL
• Etanol 1 mL
• Aquades 1 mL
• Kristl iodium 1 gram
• H2SO4 pekat 1 mL
• Parafin 1 mL
• Minyak kelapa 1 mL

IV. Prosedur Percobaan

Hidrokarbon Alifatis (Alkana)
1. Masukan 1 mL asam sulfat pekat kedalam tabung reaksi
2. Tambahkan 1 mL alkana (paraffin cair)
3. Kocok hingga berubah warna dan amati

Hidrokarbon Aromatis Benzena (C6H6)
1. Sediakan 2 buah tabung reaksi dan masing-masing tabung diisi dengan 1 mL aquades
2. Tambahkan 1mL etanol pada tiap-tiap tabung kemudian tetesi dengan benzena pada masing-masing tabung sebanyak 1 mL secara perlahan-lahan
3. Amati perubahan yang terjadi
Sifat benzena sebagai pelarut
1. Sediakan 6 buah tabung reaksi.
2. Tiga tabung masing-masing disi dengan 1 mL aquades dan tiga tabung yang lain, yaitu tabung 4,5, dan 6 masing-masing diisi dengan 1 mL benzena.
3. Pada tabung 1,2, dan 3 yang berisi aquades tambahkan paraffin pada tabung 1, 1mL minyak kelapa pada tabung 2 dan 1 gram kristal iodium pada tabung 3.
4. Ulangi perlakuan diataas terhadap tabung reaksi 4,5, dan 6 yang berisi benzena
5. Amati perubahan yang terjadi.
Nutrisi benzena
1. Sediakan 1 tabung reaksi kemudian isi dengan 1 mL asam sulfat pekat.
2. Tambahkan dengan 3 mL asam nitrat pekat secara perlahan-lahan. (lakukan diruang asam)
3. Tetesi dengan 1 mL benzena.
4. Amati perubahan yang terjadi.
5. Tuangkan 25 mL aquades secara perlahan-lahan. (lakukan diruang asam)
6. Amati perubahan yang terjadi.

V. Hasil Pengamatan
Setelah melaksanakan percobaaan diperoleh data sebagai berikut :
Sampel Penambahan pereaksi Pengamatan Gambar pengamatan
Hidrokarbon Alifatis Parafin cair 1ml H2SO4 +1ml parafin cair Parafin tidak larut dalam H2SO4, membentuk 2 lapisan pada larutan tersebut dengan lapisan parafin diatas H2SO4 dibawah serta berwarna kekuningan
Hidrokarbon Aromatis (benzena) Benzena 1ml aquades +1ml etanol + 1ml benzena kedalam tabung dengan perlahan Terdapat 3 lapisan, benzena yang tidak larut membentuk lapisan kedua dengan cincin berbentuk awan putih
Sifat benzena sebagai pelarut Aquades
Benzena • Tabung 1 : 1ml aquades +1ml parafin cair
• Tabung 2 : 1ml aquades + 1ml minyak kelapa
• Tabung 3 : 1ml aquades + 1 gr kristal iodium
• Tabung 4 : 1ml benzena + 1ml parafin
• Tabung 5 : 1ml benzena +1ml minyak kelapa
• Tabung 6 : 1ml benzene + 1gr kristal iodium • Parafin tidak larut dalam air, membentuk 2 lapisan dengan air dibawah
• Minyak tidak larut dalam air, membentuk 2 lapisan dengan minyak dilapisan atas
• Larutan kelewat jenuh sehingga kristal iodium tidak terlarut semua dan membentuk endapan berwarna coklat
• Parafin tidak larut dalam benzena sehingga membentuk 2 lapisan dengan parafin dibawah dan terdapat cincin berwarna seperti pelangi
• Minyak kelapa tidak larut dalam benzena dan membentuk seperti pelangi minyak berada dibawah.
• Kristal iodium tidak larut sempurna, membentuk endapan dalam larutan berwarna ungu gelap





Nutrisi benzena HNO3 pekat 1ml H2SO4 pekat + 3ml HNO3 pekat (secara perlahan) + 1ml C6H6 + 5 ml aquades secara perlahan Pada saat penambahan H2SO4 + HNO3 +C6H6 terbentuk 3 lapisan tak tercampur dengan benzena pada lapisan atas, HNO3 pada lapisan ke-2, dan H2SO4 pada lapsan ke-3dan ketika ditambahkan aquades ke 3 lapisan tidak tercampur itu menjadi larutan tidak sempurna

VII. Pembahasan
Pada hasil pengamatan diketahui bahwa paraffin tidak larut dalam H2SO4, membentuk 2 lapisan pada larutan tersebut dengan lapisan paraffin diatas dan H2SO4 dibawah serta berwarna kekuningan. Hal ini menunjukan bahwa alkana dengan ikatan tunggal bereaksi dengan asam sulfat dalam jumlah sedikit atau terjadi reaksi pengsulfonatan. Uji ini menghasilkan larutan bening yang terpisah berdasarkan tingkat kekeruhannya.
Untuk mengetahui sifat benzena sebagai pelarut pada hasil pengamatan diketahui jika terdapat 3 lapisan, benzena yang tidak larut membentuk lapisan kedua dengan cincin berwarna putih dan berbentuk awan.
Paraffin tidak larut dalam air membentuk 2 lapisan air dibawah, minyak tidak larut dalam air membentuk 2 lapisan minyak diatas, larutan kelewat jenuh sehingga iodium terlarut semua membentuk seperti endapan berwarna coklat. Hal ini disebabkan karena paraffin dan minyak tidak sesuai dengan tegangan permukaan antara air dan lemak.
Air dan kristal iodium larutan ini kelewat jenuh sehingga kristal iodium tidak terlarut semua. Paraffin tidak larut dengan benzena hal ini disebabkan karena paraffin yang tidak terhidrogenasi. Minyak kelapa tercampur lambat dengan benzena disebabkan minyak kelapa terhidrogenasi sebagian.
Pada nitrasi benzena saat H2SO4 + HNO3 + C6H6 tidak tercampur, tapi ketika ditambahkan aquades menjadi larutan yang terlarut sempurna, hal ini terjadi karena benzena menjalani nitrasi dengan HNO3 pekat dan H2SO4. Sebagai kualitas dengan nitrasi aromatik yang berupa reaksi 2 tahap, yaitu tahap cepat dan tahap lambat.

Persamaan Reaksi :
1. Hidrokarbon alifatis
H2SO4 + 2C25H52 22C25H26 + H27 (SO4) 13,5
2. Hidrokarbon aromatis benzena
• H2O + CH3CH2OH CH3CH3 + H2 + O2
• CH3CH3 + C6H6 CH3CH3 + C6H6
3. Sifat benzena sebagai pelarut
• H2O + C25H52 C25H52 + H2O
• H2O + minyak H2O + minyak
• 2 H2O(l) + 2I2(s) 4HI(aq) + O2(g)
• C6H6 + C25H52 C6H6 + C25H52
• C6H6 + minyak C6H6 + minyak
• C6H6 + I2 C6H4I2 + H2
4. Nutrisi benzena
• H2SO4 + HNO3 H2 (NO3)2 + H2 (SO)4
• H2SO4 + HNO3 + C6H6 H2SO4 + HNO3 + C6H6
• H2SO4 + HNO3 + C6H6 + H2O H2SO4 + HNO3 + C6H6 + H2O
VIII. Kesimpulan
• Alkana tergolong zat yang sukar bereaksi sehingga disebut parafin yang artinya afinitas kecil
• Sifat Benzena yang tidak larut membentuk lapisan ke dua dengan cincin berbentuk awan berwarna putih.
• Benjena sebagai pelarut hanya dapat melarutan senyawa-senyawa polar
• Nitrasi Benzene diketahui jika Benzene, as.Sulfat dan as.Nitrat yang masing-masing tidak saling melarutkan, dapat larut pada pelarut polar (air).




IX. Daftar Pustaka
• Fessenden Ralp J & Fessenden Joan S. 1982. Kimia Organik : Edisi Ketiga. Jakarta. Erlangga
• http://blog.unnes.ac.id/iw4n/2009/10/09/materi-hidrokarbon/ diakses pada tanggal 29 Februari 2012
• http://migasnet02wulan8011.blogspot.com/2010/01/sifat-sifat-hidrokarbon
• http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon. diakses pada tanggal 29 Februari 2012
• http://labdasar.trunojoyo.ac.id/buku%20Organik.pdf. Akses tanggal 29 Februari 2012
• Indra Mulyani.Blogspot.com. akses : senin, 09 Mei 2011 di 07:20

LAPORAN PRAKTIKUM BIOSISTEMATIKA TUMBUHAN TINGKAT TINGGI “ MORFOLOGI DAUN ”

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOSISTEMATIKA TUMBUHAN TINGKAT TINGGI
“ MORFOLOGI DAUN ”

Nama : Annisa Sundari Nur Hidayati
NIM : 1211702005
Kelas : Biologi II/A
Kelompok : 3 (tiga)
Tanggal Praktikum : 16 Maret 2012
Tanggal Pengumpulan : 22 Maret 2012
Dosen : Ateng Supriatna, M.Si
Asisten Dosen : Wanty Indriyani




JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

2012
“ MORFOLOGI DAUN ”
I. Pendahuluan
1.1 Dasar Teori
Morfologi tumbuhan merupakan cabang ilmu tumbuhan yang sekarang telah berdiri sendiri. Morfologi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar dan susunan tubuh tumbuh-tumbuhan (Susylowati, 2003).
Daun adalah merupakan salah satu bagian dari tumbuhan yang tumbuh pada bagian paling atas dari tumbuhan. Pada umumnya daun berwarna hijau. Zat warna hijau pada daun disebut klorofil. Namun, jika kita perhatikan ada beberapa jenis daun yang tidak berwarna hijau, misalnya daun puring (tumbuhan yang biasanya tumbuh di daerah pemakaman, berwarna merah berbentuk panjang seperti daun pandan), daun beringin putih, daun singkong mentega, dan daun iles-iles (suweg).
Daun mempunyai fungsi antara lain :
1. sebagai tempat tumbuhan melakukan fotosintesis
2. sebagai alat pernapasan (stomata / mulut daun)
3. sebagai alat penguapan
daun sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, ada yang berwarna hijau, hijau tua dan hijau muda. Pada hijau daun ini lah akan terjadi fotosintesis.
Apabila kita amati, ada daun yang hanya terdiri atas satu helai daun dalam satu tangkai. Dauin jenis ini disebut daun tunggal. Ada pula daun yang terdiri atas beberapa helai daun dalam satu tangkai. Daun seperti ini disebut daun majemuk (Anonim,2012).
Daun merupakan bagian dari tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiaptumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Daun hanya terdapat pada batang sajadan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tubuh tumbuhan. Daun yanglengkap memiliki bagian-bagian berikut :
1. Upih daun atau pelepah daun (vagina)
2. Tangkai daun (petiolus)
3. Helaian daun (lamina)
4. Ujung daun (apex folii)
5. Pangkal daun (basis folii)
6. Tepi daun (margo folii)
7. Daging daun (intervenium)
8. Tulang daun (nervatio)
Contoh daun yang lengkap yaitu, daun pisang (Musa paradisicial. L) (Gembong, 2009)
a. Morfologi daun
Bentuuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing tajam (wikipedia.org/wiki/daun).
b. Anatomi daun
• Epidermis
Merupakan lapisan sel hidup terluar, jaringan ini terbagi menjadi epidermisatas dan epidermis bawah. Epidermis berfungsi untuk melindungi jaringfanyang terdapat dibawahnya.
• Jaringan mesofil
Jaringan tiang, jaringan ini mengandungbanyak kloroplas yang berfungsi dalam pembuatanmakanan (fotosintesis).
• Jaringan bunga karang
Disebut juga jaringan spons, karena lebih berongga bila dibandingkandengan jaringan palisade. Berfungsi untuk memnyimpan cadanganmakanan
• Berkas pembuluh angkut
Terdiri xylem atau pembuluh kayu, dan floem atau pembukuh tapis. Padatumbuhan dikotil keduanya dipisahakan oleh cambium. Pada akar, xylem berfungsi mengangkut air, dan mineral, menuju daun. Pada batang, floeem berfungsi sebagai sponsor penegak tumbuhan floem berfungsi sebagai sponsor penegak tumbuhan. Floem berfungsi mentransfer hasil fotosintesis dari daun keseluruh bagian tumbuhan.
• Stomata
Berfungsi sebagai organ respires, stomata mengambil CO2 dari udara untuk dijadikan bahan fotosintesis, mengeluarkan O2 sebagai hasil fotosintesis. Stomata terletak di epidermis bawah.
c. Fungsi daun
• Pengambilan zat-zat makanan (resorbsi), terutama yang berupa zat gas (O2).
• Pengolahan zat-zat makanan (asimilasi).
• Penguapan air (transpiras).
• Pernapasan (respirasi) (www.infantoshut.com/daun).

1.2 Tujuan
• Deskripsi ciri-ciri morfologis yang terlihat pada daun.
• Penggambaran spesimen seranting daun dari beberapa jenis tumbuhan.

1.3 Hipotesis
Semua tumbuhan memiliki daun yang berbeda-beda.

II. Metode
2.1 Alat dan Bahan
Alat Bahan
Alat tulis
Gunting ranting/golok Spesimen seranting daun dari 5 jenis tumbuhan





2.2 Cara Kerja

- Ambil dan lakukan pencatatan ciri-ciri morfologi seranting daun secara rinci




Gambar dan dilengkapi keterangan

III. Hasil dan Pembahasan
3.1 Hasil Tabel Hasil Pengamatan :
Gambar Bagian-bagian yang diamati
Daun lengkap/tidak Daun Majemuk/tunggal Bentuk daun Pangkal Tepi Susunan tulang Warna Permukaan Ujung daun Daging daun
Tidak Tunggal Tombak Meruncing Bergerigi Bertulang menyirip Hijau Berbulu halus Meruncing Tipis lunak
Tidak Lengkap Bangun bulat / bundar Meruncing Bertepi rata Menyirip Merah Kasap Runcing Tipis lunak
Tidak Tunggal Bulat Runcing Bergerigi Bertulang menjari Hijau Berbulu halus dan rapat Meruncing Tipis lunak
Tidak Tunggal Bangun bulat telur Runcing Bertulang Runcing Merah,
hijau Licin Daun memanjang Tipis lunak

Tidak Majemuk Daun jorong Membulat Rata Menyirip Hijau Halus dan rapat Meruncing Tipis lunak












1.2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami akan mengamati dari morfologi daun. Disini kami mengambil beberapa sample daun. Diantaranya adalah:
Berdasarkan gambar hasil pengamatan pada daun pertama, memiliki daun tunggal karena pada daun pertama warna daun hijau,permukaan daunnya berbulu halus, daging daun tipis lunak, ujung daun meruncing, tepi daun bergerigi, memiliki helaian daun, memiliki urat-urat daun, dan memiliki tangkai daun. Daun ini juga merupakan daun tidak lengkap dan dapat disebut juga daun bertangkai karena hanya terdiri atas tangkai dan helaian daun saja.
Berdasarkan hasil pengamatan pada daun ke dua, memiliki daun tidak lengkap karena daun tersebut hanya memiliki tangkai dan helaian daun saja. Lazimnya disebut daun bertangkai. Susunan daun yang demikian itulah yang paling banyak kita temukan, misalnya nangka dan mangga, Selain itu juga memiliki daun tunggal karena daun yang memiliki 1 helaian daun pada tangkai daunnya. Kemudian daun tersebut memiliki bentuk daun yang bangun bulat / bundar. selain itu juga daun ke dua memiliki pangkal daun yang meruncing karena seperti pada ujung yang runcing tetapi titik pertemuan kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, hingga ujung daun nampak sempit panjang dan runcing. Dan memiliki tepi daun bertepi rata dan susunan tulang yang menyirip.
Berdasarkan hasil pengamatan pada daun ke tiga juga memiliki daun tidak lengkap karena tidak memiliki pelepah, daunnya berbentuk bulat karena permukaan yang lebar letaknya berada ditengah, dan memiliki daun tunggal karena memiliki satu helaian daun saja permukaannya berbulu halus dan rapat, tepi daunnya bergerigi, pangkal daunnya runcing karena terdapat pada daun bangun memanjang, lanset, belah ketupat, dll.
Pada gambar ke empat juga memiliki daun tunggal karena mempunyai bagian-bagian daun yang berbeda antara golongan tumbuhan satu dengan yang lain karena pada daunnya hanya terdapat satu helai daun saja. Dan memiliki daun yang tidak lengkap karena tidak memiliki pelepah, daunnya berbentuk bangun bulat telur, permukaannya licin, memiliki pangkal daun yang runcing karena terdapat pada daun bangun memanjang, lanset, belah ketupat, dll., memiliki ujung daun yang memanjang, dan
Pada gambar ke lima juga memiliki daun majemuk karena pada satu tangkainya terdapat lebih dari satu helaian daun, memiliki daun tidak lengkap karena tidak memiliki pelepah, daunnya berbentuk jorong, permukaannya halus dan rapat. Daun ini memiliki warna hijau selain itu juga memiliki pangkal yang membulat dan ujung daunnya meruncing karena seperti pada ujung yang runcing tetapi titik pertemuan kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, hingga ujung daun nampak sempit panjang dan runcing, susunan tulangnya menyirip.

IV. Kesimpulan
• Ciri morfologi pada daun pertama
- Daun bertangkai, terdiri atas tangkai dan helai saja (daun tidak lengkap).
- Ujung daun (apex) : meruncing.
- Pangkal daun (basis folli) : meruncing
- Susunan Tulang daun (nervatio) : daun bertulang menyirip (peninervis).
- Tepi daun (mago folii) : bergerigi
- Daging daun (intervenium) : tipis lunak
- Bentuk daun : tombak
- Warna : hijau
- Permukaan daun : berbulu halus.
- Termasuk kedalam daun tunggal.
• Ciri morfologi pada daun ke dua
- Daun bertangkai, terdiri atas tangkai dan helai saja (daun tidak lengkap).
- Ujung daun (apex) : runcing.
- Pangkal daun (basis folli) : meruncing
- Susunan Tulang daun (nervatio) : daun bertulang menyirip (peninervis).
- Tepi daun (mago folii) : bertepi rata
- Daging daun (intervenium) : tipis lunak
- Bentuk daun : bangun bulat bundar
- Warna : hijau
- Termasuk kedalam daun tunggal

.
• Ciri morfologi pada daun ke tiga
- Daun bertangkai, terdiri atas tangkai dan helai saja (daun tidak lengkap).
- Ujung daun (apex) : meruncing.
- Pangkal daun (basis folli) : runcing
- Susunan Tulang daun (nervatio) : daun bertulang menjari ( palminervis).
- Tepi daun (mago folii) : bergerigi
- Daging daun (intervenium) : tipis lunak
- Bentuk daun : bulat
- Warna : hijau
- Permukaan daun : berbulu halus dan rapat.
- Termasuk kedalam daun tunggal.
• Ciri morfologi pada daun ke empat
- Daun bertangkai, terdiri atas tangkai dan helai saja (daun tidak lengkap).
- Ujung daun (apex) : memanjang.
- Pangkal daun (basis folli) : runcing.
- Susunan Tulang daun (nervatio) : runcing.
- Tepi daun (mago folii) : bertulang melengkung.
- Daging daun (intervenium) : tipis lunak.
- Bentuk daun : bangun bulat telur.
- Warna : hijau, merah
- Permukaan daun : licin.
- Termasuk kedalam daun tunggal.
• Ciri morfologi pada daun pertama
- Daun bertangkai, terdiri atas tangkai dan helai saja (daun tidak lengkap).
- Ujung daun (apex) : meruncing.
- Pangkal daun (basis folli) : membulat.
- Susunan Tulang daun (nervatio) : daun bertulang menyirip (peninervis).
- Tepi daun (mago folii) : rata.
- Daging daun (intervenium) : tipis lunak.
- Bentuk daun : daun jorong.
- Warna : hijau
- Permukaan daun : halus dan rapat.
- Termasuk kedalam daun majemuk.

V. Daftar Pustaka
• http://anakdesmaupintar.blogspot.com/2011/05/daun-tunggal-dan-majemuk.html. diakses-21-03-12
• http://drjat.blogspot.com/2011/11/daun-tunggal-dan-daun-majemuk.html.diakses-21-03-12
• http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2104488-pengertian-daun/. Diakses-21-03-12
• http://ihu4ever.blogspot.com/2008/05/pengertian-daun.html.diakses-21-03-12
• http://www.scribd.com/dkholidaziah/d/82069847-laporan-mortum1
• http://www.wikipedi.org/wiki/daun/ . diakses-21-03-12
• www.infantoshut.com/daun.diakses-21-03-12
• Tjitrosoepomo, gembong. 2009. Morfologi Tumbuhan. Jakarta : UGM Press